Budi Suyono dan Pola Prima

Dalam satu kesempatan tarawih bersama perbankan yang dibawahi BMPD sekitar tahun 2007 bertempat di Kantor Bank Indonesia Yogyakarta terlihat suatu keadaan yang lazim terjadi. Karena yang mengadakan Bank Indonesia, maka dapat dipastikan undangan yang hadir membludak dari segala lapisan masyarakat dan status sosial yang berbeda-beda, baik dari kalangan perbankan sendiri, akademisi, pesantren, instansi-instansi pemerintah dan masyarakat sekitar, mulai dari profesor, guru, dosen, tukang becak, taxi, para pegawai dan lain-lain. Dari sisi usia juga beragam mulai anak-anak, nenek-nenek maupun muda dan mudi. Meskipun latar belakang para undangan berbeda-beda, mereka memiliki satu persamaan, yakni sama-sama tidak bisa menata sandal atau sepatu dengan rapi. Kondisinya seperti “kapal pecah”, berantakan, semrawut dan tidak sedap dipandang mata. Kadang sandal yang kiri di sebelah utara, yang kanan disebelah selatan. Kadang sandal yang kiri dibuka, sedangkan yang kanan sengaja dibalik agar tidak dicuri. Ada yang dibungkus rapat dengan plastik, ada yang ditaruh dibawah pohon kecil atau semak-semak dan sebagainya. Intinya mereka tidak memiliki kesamaan komitmen, pikiran dan tindakan.

Situasi dan suasana tiba-tiba berubah menyenangkan, ketika datang sekelompok orang sekitar 10 pemuda yang ganteng-ganteng, potongan rambutnya rapi, bajunya seragam dan bahasa tubuhnya yang antusias. Rupanya mereka siswa Taruna Nusantara yang kebetulan lewat dan ikut mampir sholat isya dan tarawih di KBI Yogyakarta. Sekilas tidak ada yang istimewa. Tetapi apabila diamati ada hal yang berbeda. Apa yang membedakan? Ketika mereka mulai membuka sepatu untuk berwudhu, satu persatu mereka menata sepatu dengan lurus, rapi, letaknya sama, ujung sepatu depan dan ujung sepatu belakang sama dan mengkilatnya sama. Intinya mereka memiliki kesamaan nilai-nilai yang diyakini, doktrin yang kuat sehingga menghasilkan output yang sama. Mereka memiliki kesamaan komitmen, berfikir dan bertindak.

Kisah tersebut adalah contoh konkrit atau aktivitas yang mewakili gambaran definisi dari Pola Prima yang merupakan pedoman para insan Bank BTN, dimana Pola Prima adalah pondasi untuk membentuk kesamaan komitmen, berfikir dan bertindak menjalankan Misi dan mencapai Visi Bank BTN. Selanjutnya bagaimana perjalanan budaya kerja Bank BTN yang berisi 6 Nilai Dasar dan 12 Perilaku Utama.

Sedikit kita mengingat kembali bahwa dasar hukum pelaksanaan nilai-nilai budaya di Bank BTN adalah didasarkan pada Rencana Jangka Panjang Bank BTN Tahun 2008-2012 sebagaimana telah disosialisasikan ke Kementrian BUMN, Komisaris, Direksi, Divisi dan seluruh Kantor Cabang Bank BTN termasuk Kantor Cabang Syariah. Perjalanan sebelumnya diawali dari tahap pengumpulan nilai-nilai harapan dari seluruh responden yang berjumlah 645 orang yang tersebar di 28 lokasi pada tanggal 3 Oktober 2005 sampai 22 Oktober 2005. Kemudian dilanjutkan dengan tahap penjaringan sampai dengan tahap kedua yaitu kristalisasi yang dilaksanakan pada tanggal 2 Desember 2005 (Tim Change Management Office BTN, 2008).

Saat ini perjalanan budaya kerja di BTN memasuki episode internalisasi tahap III. Internalisasi merupakan tahapan kegiatan untuk menanamkan nilai-nilai dasar budaya kerja ke dalam jiwa setiap individu pegawai, sehingga dapat merasuk dan menjiwai nilai-nilai tersebut yang tercermin dari sikap dan perilaku.

Dalam karya tulis ini kami menyajikan dalam batasan apa yang pernah kami lakukan dan alami khususnya di KCS Yogyakarta  mulai kurun waktu sejak berdirinya tanggal 4 April 2005 sampai sekarang. Perjalanan suka dan duka, trial and error, mana yang bisa dipraktekkan dan mana yang tidak dapat dipraktekkan, kelebihan dan kekurangan membentuk suatu budaya kerja dapat sedikit kami paparkan. Hal yang tidak kalah penting sepertinya dirasakan perlu adanya evaluasi atau semacam audit budaya organisasi untuk mengukur dan memastikan apakah budaya kerja sudah berjalan sesuai yang diharapkan.

Beberapa pokok pemikiran yang kami susun dan kami jalankan sempat kami tuangkan dalam fase awal di buletin  internal di KCS Yogyakarta yaitu buletin “Embun” (walaupun setetes, tapi menyejukkan) dalam kolom bertajuk Budaya Kerja,  berisi tahapan-tahapan dan langkah-langkah menapaki dalam mewujudkan budaya kerja, berturut-turut memaparan tentang keyakinan, optimisme, spiritualitas, dan percaya kepada kemampuan diri sendiri.

Pemaparan tahapan-tahapan tersebut secara garis besar sebagai berikut :

1.  Keyakinan yang kuat dan benar

Berbicara keyakinan berawal dari personil karyawan KCS Yogyakarta waktu itu berjumlah 11 orang, maka penulis membuat tulisan pada edisi perdana bulan April 2007 dengan judul Kesebelasan Tujuh Nol Empat (Ke-11-an 704). Angka sebelas menunjukkan jumlah personil dan 704 adalah kode cabang BTN Syariah Yogyakarta. Disetiap pertemuan pengajian rutin bulanan kami selalu merasa minder dan kecil ketika terjadi dialog dengan para pembicara karena jumlah kami yang sedikit. Baik pada waktu di dalam kendaraan maupun pada saat acara berlangsung.  Beberapa nama pembicara yang cukup dikenal di tingkat nasional seperti Ust.Fauzil Adhim,  (penulis buku best seller “Kupinang Engkau dengan Hamdalah, Membuat Anak Gila Membaca, dan Positive Parenting), KH. Hamdani Bakran Ad-Dzakiey (penulis buku best seller Phrophetic Intelligence) dan Ust. Danu (mengusung tema “Ahlakul Karimah” berkaitan erat dengan kesehatan).

Hingga pada suatu waktu ketika menjemput salah satu pembicara untuk pengajian bulanan periode Pebruari 2007, percakapan biasa perihal jumlah kami yang minim itu terjadi di dalam mobil, jawaban ustad waktu itu,…personil 11 orang tidak terlalu masalah, yang penting semuanya pemain inti. Sekilas ungkapan tersebut biasa dan awalnya pernyataan itu belum nyantol dalam benak saya. Beberapa saat kemudian, sambil merenung selama perjalanan, Alhamdulillah….Insya Allah melalui pernyataan singkat tadi,  sedikit demi sedikit saya menemukan pemahaman  pada  waktu itu:

  • bahwa pemain inti tadi lebih bermakna pada tuntutan kualitas yang harus dimiliki personil kami, bukan hanya pada tataran konsep tapi lebih banyak kepada aksi yang nyata di lapangan;
  • bahwa ketika semua menjadi pemain inti , berarti tidak ada pemain cadangan. Artinya setiap personil harus siap pakai, siap tempur, produktif, tidak menganggur, tidak berpangku tangan, berfungsi sesuai fungsinya masing-masing.(buletin embun, edisi perdana.aprl 07/hal.2-3)

Dengan demikian, kuantitas bukan satu-satunya penentu. Sedikit tapi berkualitas, berbobot, berkarakter dan mempunyai nilai, jauh lebih indah dilihat dan dirasakan, karena pelan tapi pasti akan menghasilkan gerakan yang kompak, seiring seirama, kokoh dan mempunyai kekuatan yang dahsyat.

Saat ini kita masih diberi kesempatan menyaksikan betapa orang Yahudi yang sangat jauh lebih sedikit dari seluruh penduduk dunia, justru menguasai dunia. Kita saksikan bagaimana saat Perang Badar, dengan keyakinan yang kuat atas pertolongan Allah pasukan muslim berjumlah 300 orang melawan pasukan musuh yang berjumlah 1000 orang. Dikuatkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 249 :

”Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan     yang banyak dengan seizin Allah”

Dengan demikian insan-insan BTN melalui unit-unit kerja membentuk sub-sub kecil, tim-tim kecil yang solid dan kompak sebaik mungkin, sehingga ketika digabung dengan sendirinya akan membuahkan hasil yang luar biasa, bahkan bisa jadi diluar dugaan kita sekalipun.

Bukankah BTN keseluruhan termasuk yang kecil dan sedikit dibandingkan dengan bank-bank BUMN yang lain. Tapi, hari ini kita harus mempunyai keyakinan yang kuat lagi benar  bahwa BTN bisa dan harus lebih baik ke depannya. Tidak silau dengan kuantitas dan terus memperbaiki kualitas. Kita sering menyebutnya (BTN)..”kecil tapi montok”.

Budi Suyono

Kepala Cabang Pembantu Syariah BTN Condongcatur, Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s